Pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa

Pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa

Saya yakin andapun disaat kecil pernah ditanya oleh seseorang, biasanya orangtua ataupun guru dengan pertanyaan “nak, kamu kalo udah besar mau jadi apa ??” ada yang jawab jadi polisi, tentara, dokter, bahkan pilot (:D :V). Setelah beranjak dewasa, kita baru sadar bahwa apa-apa yang ingin dicapai ketika berusia belia itu tak semudah membalikan panci dapur (:D). Pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa.

 

Pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa

3 minggu atau sebulan yang lalu (kalau tidak salah), saya secara tidak sengaja menyaksikan acara hitam putih sampai selesai!! karena bintang tamu yang dihadirkan merupakan juragan eskrim yang tidak pandai membaca dan pengusaha cuci mobil yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai sekolah dasar saja. Kalau kita bicara omset, tentu kita sepakat ratusan juta bagi mereka adalah hal yang biasa. Namun jika melihat latar belakang pendidikannya, bagaimana bisa demikian ??

Singkatnya, juragan eskrim tersebut memulai usahanya dengan berjualan eskrim keliling, sedikit demi sedikit berkembang membuka cabang bahkan sampai ke Pontianak !!

Tidak hanya berkutat didagangan eskrim saja, beliau sekarang telah memiliki minimarket, dan sewa kontainer. Suatu pencapaian yang luar biasa bagi seseorang yang bahkan tak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Begitulah kebanyakan dari kita yang hanya bisa takjub melihat kesuksesan seseorang.

Dalam kacamata kita, beliau melakukan apa yang ia bisa dan pandai memanfaatkan peluang. Dikarenakan pendidikannya yang bahkan tak bisa membaca, sedikit banyak mengurangi tekanan gengsi dalam melakukan pekerjaannya. Umumnya, bagi kita yang menyelesaikan studi sampai SMA, S1 dan seterusnya tentu ini menjadi beban gengsi tersendiri jika melakukan tindakan serupa. Menurut saya inilah titik bedanya. Pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa.


Kurang lebih dengan bapak juragan eskrim, owner cuci mobil yang telah memiliki lebih dari 20 outlet se Indonesia beserta 400 lebih karyawannya, dengan omset milyaran perbulan juga hanya dapat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar. Awalnya beliau bekerja sebagai kuli bangunan.
Saya harap cerita singkat diatas dapat membuka paradigma kita dalam berfikir. Memang tak mudah untuk menghilangkan penyakit gengsi, karena pada dasarnya tiap diri ingin dihormati. Tentu saja, cakupan idealis tidak hanya dalam hal gengsi. Masuk didalamnya berbagai faktor seperti Passion, prinsip, dan lainnya.

Sekali lagi, pekerjaan, antara idealis dan kondisi realita yang memaksa 🙂


Web Developer, Designer, Bekammer, Teknisi Laptop, and many more :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *